Aku berusaha mencari cinta yang sejati, cinta yang tulus, dan cinta yang tanpa meminta atau pamrih?
Dan aku menemukannya. Siapa yang lebih dalam cintanya dibandingkan cinta Tuhan padamu? Bayangkan, ketika aku menangis, ketika aku sendirian, dan aku tidak memiliki siapa-siapa, aku hanya bergumam, bisakah saya tetap melangkah, Tuhan. Kemudian, tiba-tiba Tuhan tunjukkan cahaya kecilnya.
Cahaya dalam bentuk kesempatan yang membuatku tidak bisa memilih menyerah saat itu. Entah itu hadiah, hibah, kemenangan, atau kesempatan lain yang mungkin tidak didapatkan orang lain.
Terkadang, aku merasa tidak adil, karena tiap-tiap manusia mengambil Tuhan yang berbeda, bergantung orang tuanya. Ini kubilang karena aku pernah mengalami bagaimana rasa sakit melihat orang yang kamu sangat cintai berada di seberang yang berbeda.
Dalam kepercayaanmu, dia tidak akan mendapat keselamatan di alam setelah kematian. Namun, di kepercayaan dia, kita yang bukan juga hambanya, juga takkan mendapat keselamatan di kepercayaan dia. Yang menyakitkan adalah hatimu sungguh tidak mampu melihatnya menderita, apalagi di alam yang abadi.
Namun, terlepas dari itu semua, aku tetap menyukai konsep Tuhan yang Esa, Tuhan yang lepas dari sifat-sifat fana -- lahir dan kematian -- yang itu adalah sifat-sifat manusia.
Jika aku memiliki harta yang lebih, aku sungguh ingin memberikan untuk Tuhanku, tapi juga bukan berarti aku kekurangan. Aku hanya ingin memberikannya.
Aku memberikannya, berpikiran bagaimana jika besok aku mati dan aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk Tuhan? Aku selalu berpikir, dari setiap hal yang kulewati, sebenarnya Tuhan yang berhasil memberikan rasa tenang dalam hatiku, melebihi manusia.
Padahal, Dia sudah begitu sangat baik. Saat aku berpaling, saat aku menangis sendirian, dan saat aku bercerita sendirian, sebenarnya Dia mendengarkan. Walaupun aku berkata itu dalam hatiku dan tidak kuucapkan.
Sesederhana aku berkata dalam hatiku, "Tuhan, izinkanlah hari ini terang hingga nanti malam." Tuhan sungguh tidak menurunkan hujan hari itu.
Tidak ada cinta yang lebih indah daripada cinta Tuhan untuk kita. Maka dari itu, jika ditakdirkan berjodoh dengan seseorang, aku sungguh berharap dia seseorang yang juga mampu memiliki arti tentang Tuhan yang setara, atau bahkan lebih dalam. Kebijaksanaan dalam dirinya sungguh menggerakkan hatiku untuk mendekat pada Tuhan tanpa disuruh.
Yang dengannya, diri dan akhlakku menjadi semakin baik tanpa disuruh. Dengannya pula, hatiku menjadi semakin lembut dan mataku menjadi semakin hangat. Hubungan yang tulus, sebagaimana kuharap itu juga terhubung dengan Tuhanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar