Prinsip dan Kemampuan sebagai Leader yang Disegani

 "Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahap pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahap kedua, maka dia akan rendah hati. Jika dia memasuki tahap ketiga, maka dia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya."

arti leader

Leader adalah seseorang yang memegang keputusan tertinggi dan memiliki kewenangan dalam menentukan arah progress tim berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan. 

Berbekal dari beragam pengalaman, terutama sebagai CEO di ANGPHOT, serta project manager dalam proyek Wikibility dari Wikimedia Foundation, mengajarkan saya banyak hal dalam memahami prinsip dan kemampuan seorang leader.

Kemampuan yang harus dimiliki leader

kemampuan yang harus dimiliki leader

Pertama, mengenai arti menjadi seorang leader bagi tim atau anggotanya. Saya memahami bahwa menjadi seorang leader tidak hanya perkara mempertimbangkan dan mengambil keputusan krusial, melainkan juga memikirkan dampaknya bagi anggota tim.

Selama proyek, saya memahami pentingnya mengambil keputusan yang tidak merugikan satu pihak, tapi juga tidak menguntungkan hanya satu pihak. Membuat "keputusan adil" adalah hal yang sulit dilakukan, terutama oleh orang-orang yang baru terjun dalam dunia yang mengharuskannya memimpin.

Tak jarang, saya menjumpai kepemimpinan yang hanya condong menguntungkan dirinya. Hingga akhirnya, banyak anggota tim meninggalkannya. Ini menjadi pembelajaran, betapa pentingnya untuk bersikap bijaksana dan adil untuk semua pihak.

Kelihatannya remeh, tetapi setiap keputusan kita akan berdampak pada banyak pihak yang bekerja sama dengan kita.

Baca juga: Cerita Russian Sleep Experiment: Mitos atau Fakta?

Kedua, leader adalah seseorang yang mampu memanusiakan anggotanya. Dalam artian memanusiakan adalah memberikan kesempatan yang setara untuk setiap anggota dalam timnya. Misal, dalam proses pengembangan ANGPHOT, banyak sekali event atau suatu program yang diikuti. 

Tentunya ini akan menjadi anomali bagi anggota tim lain yang tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan tersebut dan mendapat keuntungannya.

Seorang leader harus mampu melihat potensi masing-masing anggota timnya, serta memberikan kesempatan yang setara bagi mereka untuk show up. Terutama jika dalam tim tersebut berisi orang-orang dengan karakter dominan.

Ketiga, seorang leader harus mampu menerima dan mempertimbangkan pendapat anggota tim. Cukup banyak saya jumpai seorang leader tidak menyukai apabila keputusannya kurang begitu diterima oleh anggota, dan memaksakannya.

Ini merupakan hal yang cukup sulit, karena kita harus berusaha menyatukan banyak kepala. Maka, sebagai seorang leader harus mampu melihat celah yang menjadi jalan tengahnya, sebuah keputusan yang tidak merugikan satu pihak atau hanya menguntungkan satu pihak yang lain.

Keempat, seorang leader harus dapat bersikap tegas dan tidak mudah baper. Ini membutuhkan tingkat kesabaran yang sangat luas, kebijaksanaan yang tinggi, serta rasa ikhlas yang tiada batas. Para pemimpin yang lahir dari pengalaman akan membentuk mereka menjadi pribadi yang tangkas.

Seperti Pak Jokowi, misalnya. Banyak pandangan masyarkat menilai beliau merupakan salah satu pemimpin negara yang ikhlas dan bijaksana. Ini kemungkinan besar tidak dipungkiri dari pelajaran yang Beliau banyak rasakan, misal dari rasa sakit, tidak dihargai dalam fraksi partainya sendiri, atau bahkan sering menjadi sasaran celaan bagi sebagian orang.

Terlepas dari isu buruk yang beredar, prestasi Beliau sebenarnya sangat mengagumkan, dan cara kepemimpinan beliau yang "tersembunyi" dalam membalas setiap lawannya juga luar biasa.

Kelima, sebisa mungkin seorang leader lahir secara independen, dan anggota tim yang ada di dalam kelompoknya minimal 60% adalah orang-orangnya. Dengan demikian, seorang leader tidak akan terancam kehilangan identitas atau fungsinya sebagai kepala.

Case semacam ini bisa kita amati dari problem kepemimpinan era Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Setiap tindakan yang diambil Pak Jokowi tidak bisa sebebas Pak Prabowo, misal dalam perkara penangkapan "tikus negara," perkara makan siang gratis, serta berbagai program lainnya.

Baca juga: 9 Cara Menghadapi Lingkungan Kerja Toxic

Sikap yang seharusnya dihilangkan sebagai leader

sikap yang harus dihindari leader

Berbagai tantangan dan rasa sakit membentuk pribadi saya perlahan memahami setiap pembelajaran di dalam proses saya memimpin orang lain. 

Memahami bahwa sikap-sikap tertentu menjadikan seseorang tidak layak memimpin orang lain. Sikap-sikap ini hanya berdasarkan pengalaman saya.

Pertama, sebagai seorang leader jangan hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. Di dalam mengambil suatu keputusan, jangan hanya condong dalam satu kelompok. Paling buruk adalah membiarkan ego berperan di dalam pengambilan keputusan. Ini akan menyebabkan hilang respect dari anggota, atau anggota tim hanya sekadar menjalankan kewajibannya.

Kedua, sebagai seorang leader itu adalah jiwa yang memiliki rasa ikhlas paling besar lah yang akan memang. Dalam setiap proses yang notabene seperti pertempuran ini, apabila kita masih memiliki rasa pamrih, maka kita akan terasa berat untuk membuat suatu keputusan. Di sisi lain kita mempertimbangkan kebaikan orang lain, kita juga harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan risiko terburuk.

Ketiga, rentan sekali seorang leader bersikap manipulatif. Rasa ketidakpercayaan kita terhadap seorang individu akan membesar, atau sebaliknya. Apabila menghadapi hal seperti ini dengan disertai "rasa lebih baik dari orang lain" atau "sombong", maka dapat dipastikan kita akan terus merasa sakit.

Tegas dalam memimpin adalah poin utama agar identitas kita tidak menghilang. Namun, ini juga terkadang sulit dilakukan, terutama apabila kita tidak memiliki orang-orang yang akan mendukung keputusan kita karena kita adalah minoritas di sana. Case Pak Jokowi adalah contoh kompleks dari perkara ini.

Sisi kemanusiaan kita akan ditantang saat kita diamanahi menjadi seorang leader. Berbagai keputusan yang kita ambil akan memberikan dampak tidak hanya sebagian orang, tetapi keseluruhan. Kita harus mampu melihat dan mempertimbangkan berbagai risiko, bahkan tidak jarang harus mengalah untuk menjaga ritme kerja sama tim.

Bagaimana menjadi leader yang baik? Sederhana, kita hanya harus belajar menghargai orang lain, serta manajemen tim, manajemen risiko, serta bijaksana dalam mengambil suatu keputusan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar