Kata Pak Jokowi dalam penutup pidato sebelum pelantikan presiden dan wakil presiden, "Merendah serendah-rendahnya, fokuskan perhatian kita untuk semakin banyak bekerja. Penghinaan apabila kita hadapi dengan rasa sombong sedikit saja, bisa membuat kita sakit. Jangan dilawan, biarkan saja."
Pernah membayangkan bagaimana rasanya mendapatkan proyek pertama senilai dua digit? Ya, saya cukup bangga, apalagi dana hibah sebesar US$4,9 ribu ini didapatkan dari lembaga yayasan tingkat dunia.
Namun, berjalannya waktu, rasanya ternyata sangat menyakitkan. Awal kali mendapatkan informasi lolosnya proyek ini, kemudian menjumpai beberapa ketidaksetujuan antar masing-masing anggota, saya sudah merasa ini pasti akan menjadi proyek yang berat.
Berat bukan dalam artian untuk mewujudkannya, tetapi dalam proses kerja sama tim. Sejak awal melihat proporsi tim, saya sudah feeling bahwa suara saya pasti akan sulit untuk didengar, apalagi saya minoritas.
Benar dugaan saya, dalam realisasi proyek sejak awal hingga akhir, sulit sekali pendapat saya didengarkan atau diwujudkan karena masing-masing punya pendapat. Dan manusia adalah makhluk dengan ego, yang tentunya akan mempertahankan keinginannya.
Gambar itu hanyalah salah satu contoh saja, dan memang segala keputusan itu berdasarkan mufakat. Dan tentulah bisa ditebak, seberapa banyak saya harus mengalah dan merendahkan ego saya. Awalnya pendapat saya "a" selalu ditolak, baik dengan cara halus hingga akhirnya tidak bisa saya paksakan, dan saya mengalah.
Begitu seterusnya, dan Anda bisa membayangkan, seberapa lelahnya terus mengalah? Hingga pada akhirnya, saya benar-benar tidak ingin peduli. Bahkan, konsep ide saya yang awalnya hanyalah memperbanyak luaran proyek di platform Wiki dan memberdayakan komunitas disabilitas yang terpinggirkan dan berasal dari kalangan orang biasa, justru harus karam.
Ini menjadi suatu pembelajaran untuk saya, pentingnya memilih anggota tim yang tepat, dan bisa berpikiran terbuka, serta mampu menerima pendapat dari sudut pandang netral. Bahkan, dalam suatu diskusi, mereka tampak asik berbicara sendiri, seakan mendominasi rapat.
Yang saya pikirkan, kenapa saya menerimanya, dan akhirnya pun menyesalinya. Seharusnya saya mengikuti feeling yang sejak awal telah mencoba berbicara dalam diri saya. Pada dasarnya pun pengajuan hibahnya juga individu, bukan atas nama organisasi. Ditambah dengan pengalaman manajemen proyek yang telah saya punya sebelumnya, bukan hal baru untuk mewujudkan proyek ini.
Satu hal yang saya pelajari dari ini semua adalah pentingnya mencari anggota tim yang sevisi. Saya pernah mendengar nasihat dari seorang teman, "Sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus bertemu dengan berbagai orang yang tidak tepat." Dan tentunya, itu tidak mudah dan menguras tenaga.
Satu-satunya hal yang membuat hati saya terasa kehilangan respect adalah saat salah satu anggota saya bilang, "Kita bukan lembaga charity, kenapa harus memberikan hadiah besar seperti itu." Padahal, saya hanya mengusulkan rencana hadiah laptop, seperti halnya dalam acara Wikimedia Indonesia umumnya. Toh, peserta yang ikut juga dari kelompok disabilitas yang suka menulis, tetapi tidak memiliki sarana.
Rasa empatinya juga tidak setara dengan saya karena mereka hanya menjalan "program" bukan yang benar-benar mengedepankan kesejahteraan disabilitas. Padahal, saya sungguh berharap proyek ini awalnya akan benar-benar membantu teman-teman disabilitas. Namun, karena saking seringnya pendapat saya ditolak, ditambah saya minoritas sehingga sulit bagi saya mendapatkan suara, saya sering kalah suara. Sejujurnya itu menyakitkan.
Dari ini semua saya belajar, jangan sembarangan setuju untuk menjalankan suatu proyek, apalagi jika sudah tahu akan seperti apa anggota tim yang tergabung. Ditambah menyangkut kesejahteraan kelompok kurang terlayani, maka sangat penting untuk menggandeng orang-orang yang memang memiliki karakter "hangat".
Satu momen lagi yang terasa cukup menyakitkan adalah saat diadakan meeting. Kalau saya bertindak sebagai selayaknya leader, tidak ada yang bergabung tepat waktu. Lain halnya kalau saya bertindak sebagai follower, mereka sama join tepat waktu. Ini menjadi salah satu hal yang cukup menyakitkan, dan pentingnya untuk bergabung dengan orang-orang yang memang mereka menghargai dan cocok dengan kita dalam suatu proyek.Awal kali pelaksanaan proyek, saya berusaha untuk mengoptimalkan segala hal sebagai kapabilitas leader dalam proyek ini. Namun, karena sama-sama memiliki jiwa kepemimpinan, kerja sama tim ini menjadi cukup buruk. Meski proyek berjalan baik, kerja sama dan kekeluargaan tidak terbangun, dan sering terjadi
Namun, memang benar, mereka mendominasi, karena saya di sana minoritas. Saya hanya menyayangkan, padahal saya bisa mengajukan sendiri proyek ini atas nama sendiri, membentuk tim sendiri, tanpa embel-embel Wikiklub UB, sehingga rancangan awal saya mengenai proyek ini bisa berjalan dengan semestinya, dan benar-benar fokus memberdayakan komunitas disabilitas.
Dan mengenai klub Wiki ini, itu lebih pantas apabila disebut Klub Wiki HI UB, karena mayoritas diisi oleh orang-orang HI. Percayalah, terasa menyesakkan menjadi minoritas dalam suatu kelompok dan disambut dalam kelompok tersebut.
Namun, dari proyek ini, sejujurnya aku tidak bisa mewujudkan beberapa hal. Sejak awal seharusnya aku mengikuti feeling-ku untuk draw dana hibah ini. Tiba-tiba ada JBI, dana di luar proposal yang disepakati tapi tidak dikomunikasikan. Lucunya permintaan mereka ternyata tidak dibalas oleh Jacquelin. Dan itu pun dilakukan tanpa sepengetahuanku, saat aku tidak menyetujuinya, bahkan hingga reach Jacqueline. Sebegitu tidak berharganya, kah, atau bahkan sangat ingin mempertahankan keinginannya?
Aku dicurigai oleh Mas Adhi, padahal yg kupegang juga cukup untuk tiket kereta pp malang-semarang, uang konsumsi juga aku tidak mengambil, perkara pemilihan graphic designer yg awalnya setuju 2 jt, jadi 7 jt, setidaknya aku bisa merekomendasikan temen-temanku sendiri, secara skill dia juga bisa mengoperasikan banyak hal. ada banyak sekali rasa sakit yang membuatku benar-benar menyesal mengambil proyek ini.
"Sadar dirilah dengan posisimu. Posisi finance bukan berarti melangkahi kewenangan leader, meski leader tidak hadir di lokasi eksekusi. Anggota tim yang baik seharusnya saling mendukung, bukan menjerumuskan atau bahkan meremehkan keputusan perencanaan tim yang telah ditetapkan di awal pengajuan proposal. Jika masih dijumpai anggota yang seperti itu, maka tim itu seharusnya sejak awal tidak layak untuk dijalankan." Inilah pelajaran yang kali ini kudapatkan, untuk kemudian tidak lagi diulangi di masa depan.
Saya juga belajar untuk menjadi lebih berani, mengatakan ketidaksetujuan meski harus mengorbankan perasaan orang lain. Hal ini mengajarkan tegas untuk tidak lagi diinjak orang lain dan kehilangan entitas diri sendiri. Selama ini saya memang tidak bisa marah, sehingga sering diremehkan oleh banyak orang. Dan ini murni kelemahan yang harus saya perbaiki.
Posisi supervisor juga seharusnya mampu menimbang keputusan yang adil, tidak memberatkan sebelah atau hanya menguntungkan satu pihak saja.
Mungkin benar bagi sebagian orang mengatakan,
"Maksain komunikasi dengan orang yang pikirannya ga sejalan sama kita itu sangat menguras energi."
Melakukan pembelaan pun juga percuma menjelaskan, karena pada dasarnya mereka bukan orang-orang yang menyukai kita untuk memimpin mereka. Justru mereka mengatakan "Playing victim," "The Queen," dan lain-lain. Memang sejak awal vibrasi energi dan empati kita untuk mengedepankan misi mengangkat kelompok orang-orang yang kurang didengar sudah berbeda.
Mencoba berbicara juga percuma. Memperbaiki citra juga percuma. Bagi mereka yang tak mengenal kita, kita biasa saja. Bagi yang membenci, kita akan terlihat angkuh atau tidak kompeten. Bagi yang memahami, kita akan terlihat baik. Dan bagi yang mencintai, kita akan selalu istimewa.
Semoga setelah ini semua, kamu menjumpai tempat di mana kamu benar-benar dihargai, kurangmu disempurnakan, dan kamu mampu mengeluarkan semua potensi luar biasamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar